Posted on Rabu, 19 September 2012 Wanita II


Siapa Dia yang Begitu Indah Itu ?
Oleh Dhani Kurniawan
Menurut kamus besar bahasa Indonesia wanita berarti kata halus dari perempuan, lawan kata lelaki, atau perempuan yang sudah dewasa. Kamus tersebut hanya menjelaskan wanitadari dari segi kata “wanita” dan kurang menyentuh sosok wanita yang sebenarnya. Wanita bukan sekedar kata yang digunakan untuk menyebut suatu jenis kelamin. Wanita memiliki makna yang cukup komplek karena wanita mewakili sesosok mahkluk yang sangat istimewa. Wanita tidak hanya berbeda secara fisik dengan pria tetapi juga perbedaan yang lebih kompleks dalam hal non fisik. Orang terkadang memandang remeh terhadap wanita. Pandangan tersebut kebanyakan didasarkan pada pandangan umum bahwa wanita lebih lemah daripada pria. Sepintas memang secara fisik wanita nampak lebih lemah daripada pria. Namun dibalik tubuh yang nampak lemah nan indah wanita memiliki pesona dan kekuatan yang luar biasa.
Wanita dengan segala pesonanya baik fisik maupun non fisik juga selalu menarik untuk dibicarakan. Ada kalanya wanita dipuji seperti dewi tetapi tidak jarang juga dihujat dan direndahkan. Bagaimanapun wanita diposisikan dan diperlakukan yang jelas tidak akan ada yang bisa mengingkari betapa penting kedudukan wanita. Perkembangan zaman bahkan telah membuat wanita menembus batas kedudukan dan perlakuan yang dahulu disakralkan. Wanita hari ini tidak sekedar pelengkap, tidak sekedar hiasan dan tidak sekedar” konco wingkeng yang suargo nunut neraka ketut”. Wanita hari ini adalah wanita yang berhak dan mampu menentukan jalan takdirnya sendiri.
Umat Islam punya kepercayaan bahwa wanita pertama diciptakan dai tulang rusuk lelaki yang juga manusia pertama yaitu Adam. Konon Adam yang saat itu ditempatkan di surga dengan segala kemewahan dan kenikmatan yang tiada tandingannya merasakan ada sesuatu yang kurang. Adam meskpun telah dikelilingi oleh segala macam keindahan ternyata merasa kesepian. Dia merasa tidak memiliki teman yang berasal dari jenis yaitu manusia.. Allah Tuhan dalam kepercayaan Islam mengetahui perasaan Adam. Allah dengan kekuasaan dan kebijaksanaannya kemudian menciptakan teman hidup bagi Adam dari jenisnya dan terciptalah wanita pertama.
Kisah tersebut memang hanya dipercaya oleh orang Islam atau mungkin juga Nasrani dan Yahudi. Namun sebenarnya ada makna yang menarik dari kisah tersebut. Pertama Adam ternyata merasa ada yang kurang dan merasa kesepian meski telah dilimpahi segala kemewahan dan kenikmatan. Keadaan tersebut menyiratkan pesan bahwa lelaki sebagai manusia tidak lengkap tanpa ada wanita yang menemaninya. Kedua diciptakannya wanita dari tulang rusuk. Mengapa harus tulang rusuk, bukan tulang kaki atau tulang kepala. Ternyata posisi tulang rusuk dalam manusia pas untuk menggambarkan posisi seharusnya wanita terhadap lelaki. Tulang rususk tidak terlalu rendah, tidak juga terlalu tinggi. Tulang rusuk juga memegang peranan penting bagi manusia yaitu melindungi organ tubuh yang cukup vital antara lain paru-paru dan jantung. Uniknya lagi ternyata tulang rusuk adalah tulang yang paling mungkin bertemu sacara pas ketika dua orang berpelukan.
            Kisah terciptanya wanita pertama menurut kepercayaan Islam bagi saya cukup untuk menjawab pertanyaan siapa itu wanita dan bagaimana posisinya terhadap lelaki. Wanita adalah mahkluk yang begitu luar biasa. Wanita adalah ciptaan luar biasa Yang Maha kuasa yang begitu indah dan sempurna. Menurut saya satu-satunya kekurangan terbesar wanita adalah ketika dia tidak menyadari posisinya dan tidak menyadari segala kelebihan yang dimilikinya
September 2012

Posted on Senin, 27 Agustus 2012 Ironi Petani di Negeri Agraris


Kisah Tragis Petani di Negeri Agraris
Oleh Dhani Kurniawan
Sabuk zamrud yang melingkar di katulistiwa, begitulah Multatuli memberi perumpamaan bagi keindahan alam Indonesia. Selain menyimpan keindahan yang luar biasa alam Indonesia telah sejak berabad lalu dikenal subur. Tanah Indonesia menumbuhkan berbagai macam tanaman dengan segala manfaat dan keindahannya. Sudah sejak zaman kejayaan kerajaan Hindu-Budha berabad yang lalu Nusantara dikenal dengan hasil buminya yang laku keras di pasaran internasional. Berbondong-bondong pedagang dari Arab, India, juga Cina berlayar ke Nusantara untuk mendapatkan hasil buminya.
Awal abad 17 tak ketinggalan bangsa Eropa dari daratan yang begitu jauh, bersusah payah mengarungi samudera. Bangsa Eropa rela bersusah payah menempuh perjalanan panjang beresiko juga tak lain demi mencari gugusan kepulauan yang terkenal dengan hasil buminya. Bahkan orang-orang Eropa kemudian datang tidak sekedar untuk berdagang. Perlahan-lahan mereka berusaha menguasai hasil bumi, tanah, bahkan manusia Indonesia. Kekayaan alam yang melimpah itu ternyata justru membawa malapetaka. Indonesia harus mengalami perjalanan pahit berganti-ganti dijajah bangsa asing.
Adalah petani Indonesia yang selama ini dengan sepenuh hati mengolah bumi agar menumbuhkan tanaman yang bermanfaat bagi manusia. Petani Indonesia adalah pihak yang paling berjasa atas segala macam hasil bumi yang memiliki kualitas tinggi dan begitu diminati pasar inetrnasional. Telah berabad lamanya Indonesia dengan luasnya lahan pertanian dan hasil buminya yang melimpah dikenal sebaga negara agraris. Bahkan di era kolonial, kopi, gula, semua hasil bumi Indonesia telah mengantarkan Belanda menjadi negeri yang kaya raya.
Sayang beribu sayang nasib petani di negeri ini tak semanis gula Indonesia yang pernah memaniskan Eropa. Sudah sejak dulu kaum petani selalu identik dengan kelas sosial rendah dan miskin. Padahal sebenarnya petani adalah golongan yang paling tidak pernah membebani negara. Mereka hidup mandiri walaupun pas-pasan dari keringat mereka sendiri. Petani juga adalah golongan yang paling tidak pernah mengeluh, warga negara yang baik, dan tentunya taat pajak.
Pemerintah nampaknya belum pernah memberikan perhatian yang serius kepada petani. Bahkan di era perdagangan bebas petani semakin tergencet. Entah mengapa kian hari produksi pertanian kita kian tertinggal daripada negara-negara lain. Indonesia yang telah berabad-abad terkenal sebaga negeri agraris sampai-sampai harus mengimpor produk pertanian yang paling pokok yaitu beras. Semakin hari neraca perdagangan produk pertanian kian menunjukkan ke arah negatif.
Nasib petani kian hari kian tragis. Petani seolah-olah adalah pekerjaan yang ditekuni sebagai pilihan terakhir. Bahkan dalam keluarga petani, kebanyakan mengharapkan keturunan mereka tidak menjadi petani. Para petani berusaha keras menyekolahkan anaknya setinggi mungkin agar kelak tidak seperti orang tuanya. Memang di negeri ini menjadi petani seolah-olah berarti menjadi miskin. Lihatlah betapa sulitnya hidup petani. Ketika musim tanam pupuk menghilang dan harganya melangit, irigasi buruk, dan ketika panen harga produk pertanian anjlok. Tak bisa disalahkan jika para petani tak rela keturunnnya mengalami nasib yang sama dengan mereka.
Sebenar ketika pekerjaan sebagai petani mulai dijauhi bom waktu telah dipasang untuk menghancurkna negeri ini dari dalam. Bayangkan jika semakin sedikit orang yang mau menjadi petani, semakin sedikit hasil pertanian, dan semakin banyak kita harus import, dan pada akhirnya semakin lemah ketahanan pangan negara ini. Indonesia yang dikenal sebagai negeri agraris dengan segala macam hasil buminya telah tamat. Indonesia kita nanti adalah Indonesia yang harus import untuk untuk memenuhi kebutuhan pangannya.
Sudah saatnya dunia pertanian lebih diperhatikan. Pertanian memegang peranan penting dalam memenuhi kebutuhan paling pokok manusia. Jika guru selama ini bangga dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa maka rasanya tidak berlebihan jika petani Indonesia diberi gelar pahlawan tak dianggap. Barangkali terdengar menyedihkan, tetapi begitulah kehidupan petani di negeri ini.

Madiun, 18 Juli 2012